ayo login

Analisis Saham AI Nomor 1 Indonesia. Keputusan Anda, Data Kami.

Orang sombong harus kaya

Harga Saat Ini: Rp 226
Target 1 Minggu: Rp 240
Target 1 Bulan: Rp 250
Target 1 Tahun: Rp 200
Sentimen Investing: Mixed
Sentimen Stockbit: Mixed to Bearish

Apakah Anda ingin diberi notifikasi jika kami memiliki analisis baru, berita, atau rumor tentang saham ini? Klik di sini:

PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC.JK) Analisis Saham

Diperbarui: tuesday 20 january 2026

Tip: mulai ketik nama perusahaan untuk melihat saran. Tekan Enter atau klik Buka untuk membuka halaman analisisnya.

Grafik Saham

Stock chart

Grafik Indeks

Index chart

Grafik Relatif

Relative chart

Ringkasan

PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) adalah bank yang beroperasi di segmen Produktif, Konsumer, Treasury, dan Lainnya. Pada Semester 1 2025, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp 30,17 triliun dengan ekuitas Rp 4,40 triliun. Namun, laba bersih mengalami penurunan signifikan sebesar 28,25% menjadi Rp 50,59 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama karena kenaikan beban bunga. Meski demikian, laba bersih tahun penuh 2023 menunjukkan peningkatan yang kuat menjadi Rp 146,8 miliar dari Rp 55,0 miliar di tahun 2022. Rasio Price-to-Book Value (PBV) INPC yang sebesar 0,86x pada Juni 2025 menunjukkan saham ini diperdagangkan di bawah nilai bukunya. Di sisi lain, rasio Price-to-Earnings (P/E) yang relatif tinggi sebesar 40,15x dan Return on Equity (ROE) yang rendah sebesar 1,86% mengindikasikan bahwa profitabilitas saat ini belum sejalan dengan ekspektasi pasar yang tinggi. INPC memiliki rasio Debt to Equity 0%, yang mungkin mencerminkan karakteristik unik akuntansi perbankan atau rendahnya penggunaan utang tradisional. Perusahaan belum pernah membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya. Kapitalisasi pasar INPC saat ini sekitar Rp 4,37 triliun.

Sentimen Stockbit

Mixed to Bearish

Skor: 40

Sentimen di Stockbit untuk INPC sangat beragam. Ada indikasi 'ready_to_buy' dengan performa positif pada beberapa watchlist, serta laporan peningkatan pembelian asing. Namun, pengumuman UMA dari BEI pada Januari 2026 dan analisis yang menyoroti 'classic pump-dump signature' dengan peringatan risiko kehilangan modal yang tinggi, menciptakan sentimen hati-hati hingga bearish yang dominan.

Sentimen Investing.com

Mixed

Skor: 45

Diskusi di Investing.com menunjukkan sentimen yang bercampur. Beberapa indikator teknikal harian memberikan sinyal 'Beli', namun indikator teknikal jangka pendek (30 menit, per jam) lebih sering menunjukkan 'Sangat Jual' atau 'Jual'. Sentimen anggota juga terbagi antara optimis dan pesimis, tanpa konsensus yang jelas, mengindikasikan kehati-hatian di kalangan investor.

Kinerja Tahun Lalu

Status: Underperformed

Selama 365 hari terakhir, saham INPC menunjukkan penurunan sekitar -0,88% (dari Rp 228 menjadi Rp 226), sementara indeks IHSG mengalami kenaikan signifikan sekitar +27,84%. Ini menunjukkan bahwa INPC secara substansial tertinggal dari kinerja pasar secara keseluruhan. Kinerja buruk ini dapat dikaitkan dengan beberapa faktor: meskipun INPC mencatat laba bersih yang kuat di tahun 2023, laba bersih pada Semester 1 2025 mengalami penurunan tajam sebesar 28,25% karena kenaikan beban bunga, menciptakan kekhawatiran tentang profitabilitas jangka pendek. Selain itu, pada Agustus 2024, INPC menerima sanksi ringan dari OJK terkait pelanggaran peraturan laporan keuangan, yang dapat merusak kepercayaan investor. Yang paling signifikan, pada awal Januari 2026, saham INPC mengalami volatilitas ekstrem yang menyebabkan BEI mengeluarkan peringatan Unusual Market Activity (UMA), menunjukkan adanya aktivitas perdagangan yang tidak wajar dan spekulasi tinggi. Bersamaan dengan itu, adanya diskusi mengenai rencana OJK untuk menghapus bank kategori KBMI I menimbulkan ketidakpastian dan kekhawatiran tentang potensi merger paksa, meskipun manajemen telah memberikan klarifikasi. Faktor-faktor negatif ini, terutama masalah regulasi dan penurunan laba terakhir, tampaknya lebih mendominasi dibandingkan berita positif seperti penyaluran KPR subsidi dan KUR.

Outlook

1 Minggu

Target: 240

Vs Indeks: In-line

Dalam satu minggu ke depan, harga saham INPC mungkin akan bergerak stabil atau sedikit menguat, sejalan dengan konsolidasi setelah volatilitas tinggi akibat pengumuman UMA dan respons terhadap kebijakan KBMI I. Analisis teknikal menunjukkan potensi uptrend jangka pendek dengan target resistansi di kisaran 248-270. Namun, sentimen hati-hati investor yang disebabkan oleh peringatan UMA kemungkinan akan membatasi kenaikan ekstrem, menjaga kinerja tetap sejalan dengan indeks.

1 Bulan

Target: 250

Vs Indeks: Outperform

Untuk satu bulan ke depan, dengan asumsi tidak ada berita negatif baru yang signifikan atau tindakan suspensi lanjutan dari BEI pasca-UMA, saham INPC memiliki potensi untuk menunjukkan performa yang relatif baik. Dukungan dari sentimen pembelian asing dan target teknikal yang bullish dapat mendorong harga menuju target 248-270. Namun, hasil laporan keuangan berikutnya dan kejelasan kebijakan OJK terkait KBMI I akan menjadi katalis penting yang dapat memengaruhi pergerakan harga.

1 Tahun

Target: 200

Vs Indeks: Underperform

Dalam satu tahun ke depan, prospek INPC tampaknya akan menghadapi tantangan. Meskipun perusahaan menargetkan pertumbuhan laba bersih yang ambisius di tahun 2025, penurunan laba bersih pada Semester 1 2025 dan ROE yang rendah menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan pertumbuhan. Valuasi P/E yang tinggi tidak sejalan dengan profitabilitas saat ini yang bergejolak. Ketidakpastian regulasi terkait bank KBMI I dan potensi konsolidasi industri perbankan dapat menciptakan tekanan jangka panjang. Selain itu, riwayat tidak adanya pembayaran dividen dan volatilitas harga yang tinggi dengan peringatan UMA menunjukkan risiko investasi yang lebih tinggi untuk jangka panjang. Oleh karena itu, diperkirakan INPC akan berkinerja di bawah indeks.

Berita Terbaru

BEI Keluarkan Notasi UMA untuk Saham INPC (7 Januari 2026)

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan pengumuman Unusual Market Activity (UMA) untuk saham PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) pada 7 Januari 2026. Hal ini disebabkan oleh pola perdagangan saham yang tidak wajar, dengan lonjakan harga yang signifikan diikuti koreksi, mengindikasikan spekulasi tinggi.

INPC Merespons Rencana Penghapusan KBMI I oleh OJK (6 Januari 2026)

Saham INPC melonjak di awal Januari 2026 di tengah rumor rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghapus bank kategori KBMI I. Manajemen INPC menyatakan dukungan terhadap kebijakan ini namun berharap adanya roadmap dan masa transisi yang terstruktur, serta tidak dipaksakan merger selama bank dalam kondisi sehat.

Bank Artha Graha (INPC) Salurkan KPR Subsidi (22 September 2025)

PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) terlibat dalam penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi, yang menunjukkan partisipasi perusahaan dalam program pemerintah untuk mendukung kepemilikan rumah.

Kinerja Keuangan INPC Semester 1 2025: Laba Bersih Turun (1 September 2025)

Pada semester pertama tahun 2025, INPC mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 50,59 miliar, mengalami penurunan 28,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban bunga.

Bank Artha Graha (INPC) Kena Sanksi Ringan OJK, Denda Telah Dilunasi (6 Agustus 2024)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda kepada PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) pada Agustus 2024 karena pelanggaran ringan terkait ketentuan penyajian dan pengungkapan laporan keuangan tahunan 2019 dan 2020. Denda tersebut telah dilunasi, dan INPC diberi notasi khusus 'F' oleh BEI.

Laba Bersih INPC Melonjak di Tahun 2023 (1 April 2024)

PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 146,8 miliar pada tahun 2023, meningkat signifikan dibandingkan Rp 55,0 miliar pada tahun 2022. Laba bersih per saham tercatat Rp 7,34 per lembar.

Rumor

Pola Perdagangan Tidak Wajar dan Peringatan UMA dari BEI (7 Januari 2026)

Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengeluarkan pengumuman Unusual Market Activity (UMA) untuk saham INPC, mengindikasikan adanya pola perdagangan yang tidak wajar. Hal ini dapat memicu spekulasi tentang skema 'pump and dump', perdagangan orang dalam, atau penyebaran rumor palsu yang mempengaruhi pergerakan harga saham secara ekstrem.

Spekulasi Dampak Kebijakan Penghapusan KBMI I oleh OJK (6 Januari 2026)

Rencana OJK untuk menghapus bank kategori KBMI I memicu spekulasi dan lonjakan harga saham INPC di awal Januari 2026. Meskipun manajemen INPC mendukung upaya penguatan industri perbankan, mereka menekankan pentingnya masa transisi yang terstruktur dan tidak memaksakan merger jika bank dalam kondisi sehat. Rumor ini menciptakan ketidakpastian namun juga mendorong aktivitas perdagangan saham.

Rumor Akuisisi oleh Unicorn Besar (12 Maret 2021)

Pada Maret 2021, sempat beredar rumor mengenai akuisisi PT Bank Artha Graha Internasional Tbk oleh perusahaan unicorn. Manajemen INPC secara tegas membantah adanya rencana tersebut dan menyatakan belum ada pihak unicorn yang berencana mengakuisisi perusahaan.

Ikhtisar

Sekilas

Harga Saat Ini Rp. 226
Sentimen Investing.com Mixed 45 %
Sentimen Stockbit Mixed to Bearish 40 %

Buffett Indicator

2.0/10

Warren Buffett cenderung berinvestasi pada bisnis yang mudah dipahami, memiliki keunggulan kompetitif yang kuat (moat), manajemen yang solid, pendapatan yang konsisten dan dapat diprediksi, serta valuasi yang menarik. PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) tidak sepenuhnya memenuhi kriteria ini. Meskipun berbisnis di sektor perbankan yang secara umum mudah dipahami, INPC menunjukkan profitabilitas yang tidak konsisten, dengan laba bersih yang menurun pada Semester 1 2025 dan Return on Equity (ROE) yang rendah (1,86%). Rasio P/E yang tinggi (40,15x) untuk bank dengan profitabilitas yang bergejolak tidak mencerminkan valuasi yang menarik bagi Buffett, meskipun PBV di bawah 1 dapat dianggap positif. Tidak adanya pembayaran dividen juga merupakan poin negatif bagi investor yang mencari pengembalian yang stabil. Selain itu, isu-isu seperti sanksi OJK, ketidakpastian kebijakan KBMI I, dan terutama peringatan Unusual Market Activity (UMA) dari BEI menunjukkan adanya risiko regulasi dan spekulatif yang tinggi, yang sangat dihindari oleh Buffett. Secara keseluruhan, kurangnya 'moat' yang jelas, pendapatan yang tidak stabil, dan volatilitas tinggi membuat saham ini tidak sesuai dengan filosofi investasi jangka panjang dan konservatif Warren Buffett.

Prospek Jangka Pendek

Target 1 Minggu
Rp. 240
Kinerja vs Indeks
In-line
Target 1 Bulan
Rp. 250
Kinerja vs Indeks
Outperform

Prospek 1 Tahun

Target
Rp. 200
Kinerja vs Indeks
Underperform

Dalam satu tahun ke depan, prospek INPC tampaknya akan menghadapi tantangan. Meskipun perusahaan menargetkan pertumbuhan laba bersih yang ambisius di tahun 2025, penurunan laba bersih pada Semester 1 2025 dan ROE yang rendah menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan pertumbuhan. Valuasi P/E yang tinggi tidak sejalan dengan profitabilitas saat ini yang bergejolak. Ketidakpastian regulasi terkait bank KBMI I dan potensi konsolidasi industri perbankan dapat menciptakan tekanan jangka panjang. Selain itu, riwayat tidak adanya pembayaran dividen dan volatilitas harga yang tinggi dengan peringatan UMA menunjukkan risiko investasi yang lebih tinggi untuk jangka panjang. Oleh karena itu, diperkirakan INPC akan berkinerja di bawah indeks.

Gabung Newsletter kami — update rutin, ringkas, langsung ke email.

Login cepat dengan Google, bisa berhenti kapan saja.

Newsletter

Ada pertanyaan tentang data ini, apakah cocok untuk portofolio Anda atau apa risiko/peluang yang ada? Tanyakan kepada robot kami.

Informasi di situs web ini hanya untuk tujuan informasi. Ini bukan nasihat keuangan. Kami sangat menyarankan Anda membaca penafian lengkap kami sebelum menggunakan informasi apa pun di situs ini. Penggunaan Anda atas situs ini menandakan persetujuan Anda terhadap ketentuan tersebut.