Apakah Anda ingin diberi notifikasi jika kami memiliki analisis baru, berita, atau rumor tentang saham ini? Klik di sini:
PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC.JK) Analisis Saham
Diperbarui: tuesday 20 january 2026
Tip: mulai ketik nama perusahaan untuk melihat saran. Tekan Enter atau klik Buka untuk membuka halaman analisisnya.
Grafik Saham

Grafik Indeks

Grafik Relatif

Ringkasan
Sentimen Stockbit
Skor: 40
Sentimen Investing.com
Skor: 45
Kinerja Tahun Lalu
Status: Underperformed
Outlook
1 Minggu
Target: 240
Vs Indeks: In-line
1 Bulan
Target: 250
Vs Indeks: Outperform
1 Tahun
Target: 200
Vs Indeks: Underperform
Berita Terbaru
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan pengumuman Unusual Market Activity (UMA) untuk saham PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) pada 7 Januari 2026. Hal ini disebabkan oleh pola perdagangan saham yang tidak wajar, dengan lonjakan harga yang signifikan diikuti koreksi, mengindikasikan spekulasi tinggi.
Saham INPC melonjak di awal Januari 2026 di tengah rumor rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghapus bank kategori KBMI I. Manajemen INPC menyatakan dukungan terhadap kebijakan ini namun berharap adanya roadmap dan masa transisi yang terstruktur, serta tidak dipaksakan merger selama bank dalam kondisi sehat.
PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) terlibat dalam penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi, yang menunjukkan partisipasi perusahaan dalam program pemerintah untuk mendukung kepemilikan rumah.
Pada semester pertama tahun 2025, INPC mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 50,59 miliar, mengalami penurunan 28,25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kenaikan beban bunga.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda kepada PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) pada Agustus 2024 karena pelanggaran ringan terkait ketentuan penyajian dan pengungkapan laporan keuangan tahunan 2019 dan 2020. Denda tersebut telah dilunasi, dan INPC diberi notasi khusus 'F' oleh BEI.
PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 146,8 miliar pada tahun 2023, meningkat signifikan dibandingkan Rp 55,0 miliar pada tahun 2022. Laba bersih per saham tercatat Rp 7,34 per lembar.
Rumor
Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mengeluarkan pengumuman Unusual Market Activity (UMA) untuk saham INPC, mengindikasikan adanya pola perdagangan yang tidak wajar. Hal ini dapat memicu spekulasi tentang skema 'pump and dump', perdagangan orang dalam, atau penyebaran rumor palsu yang mempengaruhi pergerakan harga saham secara ekstrem.
Rencana OJK untuk menghapus bank kategori KBMI I memicu spekulasi dan lonjakan harga saham INPC di awal Januari 2026. Meskipun manajemen INPC mendukung upaya penguatan industri perbankan, mereka menekankan pentingnya masa transisi yang terstruktur dan tidak memaksakan merger jika bank dalam kondisi sehat. Rumor ini menciptakan ketidakpastian namun juga mendorong aktivitas perdagangan saham.
Pada Maret 2021, sempat beredar rumor mengenai akuisisi PT Bank Artha Graha Internasional Tbk oleh perusahaan unicorn. Manajemen INPC secara tegas membantah adanya rencana tersebut dan menyatakan belum ada pihak unicorn yang berencana mengakuisisi perusahaan.
Ikhtisar
Sekilas
Buffett Indicator
2.0/10Warren Buffett cenderung berinvestasi pada bisnis yang mudah dipahami, memiliki keunggulan kompetitif yang kuat (moat), manajemen yang solid, pendapatan yang konsisten dan dapat diprediksi, serta valuasi yang menarik. PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC) tidak sepenuhnya memenuhi kriteria ini. Meskipun berbisnis di sektor perbankan yang secara umum mudah dipahami, INPC menunjukkan profitabilitas yang tidak konsisten, dengan laba bersih yang menurun pada Semester 1 2025 dan Return on Equity (ROE) yang rendah (1,86%). Rasio P/E yang tinggi (40,15x) untuk bank dengan profitabilitas yang bergejolak tidak mencerminkan valuasi yang menarik bagi Buffett, meskipun PBV di bawah 1 dapat dianggap positif. Tidak adanya pembayaran dividen juga merupakan poin negatif bagi investor yang mencari pengembalian yang stabil. Selain itu, isu-isu seperti sanksi OJK, ketidakpastian kebijakan KBMI I, dan terutama peringatan Unusual Market Activity (UMA) dari BEI menunjukkan adanya risiko regulasi dan spekulatif yang tinggi, yang sangat dihindari oleh Buffett. Secara keseluruhan, kurangnya 'moat' yang jelas, pendapatan yang tidak stabil, dan volatilitas tinggi membuat saham ini tidak sesuai dengan filosofi investasi jangka panjang dan konservatif Warren Buffett.
Prospek Jangka Pendek
Prospek 1 Tahun
Dalam satu tahun ke depan, prospek INPC tampaknya akan menghadapi tantangan. Meskipun perusahaan menargetkan pertumbuhan laba bersih yang ambisius di tahun 2025, penurunan laba bersih pada Semester 1 2025 dan ROE yang rendah menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan pertumbuhan. Valuasi P/E yang tinggi tidak sejalan dengan profitabilitas saat ini yang bergejolak. Ketidakpastian regulasi terkait bank KBMI I dan potensi konsolidasi industri perbankan dapat menciptakan tekanan jangka panjang. Selain itu, riwayat tidak adanya pembayaran dividen dan volatilitas harga yang tinggi dengan peringatan UMA menunjukkan risiko investasi yang lebih tinggi untuk jangka panjang. Oleh karena itu, diperkirakan INPC akan berkinerja di bawah indeks.
Gabung Newsletter kami — update rutin, ringkas, langsung ke email.
Login cepat dengan Google, bisa berhenti kapan saja.
Ada pertanyaan tentang data ini, apakah cocok untuk portofolio Anda atau apa risiko/peluang yang ada? Tanyakan kepada robot kami.
Informasi di situs web ini hanya untuk tujuan informasi. Ini bukan nasihat keuangan. Kami sangat menyarankan Anda membaca penafian lengkap kami sebelum menggunakan informasi apa pun di situs ini. Penggunaan Anda atas situs ini menandakan persetujuan Anda terhadap ketentuan tersebut.